Cara membentuk mental kepemimpinan bagi introvert

Ada satu kesepakatan tak tertulis bagi para pemain dunia startup, yakni kebutuhan mental yang kuat ketika memutuskan untuk terjun ke dunia startup karena ini bukan dunia yang mudah untuk diarungi. Terlebih lagi bila peran yang dimainkan adalah sebagai pemimpin. Dan itu bukan perkara gampang bagi introvert.

Introvert bisa jadi pemimpin dengan karakter tenang
Introvert bisa jadi pemimpin dengan karakter yang tenang

Sebelum membahas lebih jauh, ada satu hal yang harus dipahami bahwa semua introvert sadar sikap keterbukaan adalah hal ideal yang dirayakan dan dihormati di masyarakat. Umumnya para pemimpin yang keras namun karismatik memiliki sikap ini, extrovert. Tapi, tak selamanya pemimpin yang dibutuhkan harus berjiwa extrovert.

Terkadang, pemimpin yang memiliki sikap tenang, menunjukkan kemampuan menyimak yang baik, mampu menganalisis situasi yang kompleks sebelum mengambil keputusan, dan bisa memancarkan ketenangan di masa konflik juga dibutuhkan.

(Baca juga: Kiat Sukses Menjalin Relasi Bisnis Bagi Introvert)

Aristoteles pernah mengatakan:

“Mengetahui diri sendiri adalah awal dari semua kebijaksanaan.”

Anda tahu satu kesamaan di antara tiga tokoh besar dunia seperti Einstein, Gandhi, dan Buffet? Ya, mereka adalah orang dengan jiwa introvert. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa beberapa pemimpin terbesar dalam sejarah umat manusia adalah seorang introvert.

Jadi, bagaimana caranya agar seorang introvert bisa menjadi pemimpin yang lebih baik ketika dia juga sering berjuang keras untuk bisa membangun relasi? Lima saran sederhana dari Scott Christ berikut ini bisa jadi pertimbangan diri.

Mendengarkan, baru berbicara

Mendengarkan kemudian berbicara adalah sesuatu yang datang secara alami bagi introvert dan ini merupakan keterampilan yang sering kurang dimanfaatkan dalam dunia bisnis. Padahal, salah satu kunci untuk dilihat sebagai pemimpin yang dihormati adalah aktif mendengarkan dan menyimak, baik itu teman, klien, atau pengikut. Kemudian tindak lanjuti dengan memberikan bimbingan atau jawaban yang sepadan.

Maju selama masa krisis

Krisis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, dan bagaimana Anda menanggapi masa-masa sulit tersebutlah yang penting. Pemimpin introvert biasanya melihat masa krisis sebagai sebuah kesempatan. Jadi, menurut Scott, maju dan jadilah “voice of reason” ketika hal-hal buruk terjadi. Toh apa yang bisa dipelajari dari masa krisis itulah hal terpenting yang harus bisa dipetik.

Keluar dari zona nyaman

Ini adalah hal paling sulit bagi seorang introvert karena introvert biasanya lebih nyaman bekerja sendiri daripada dengan orang. Bahkan besar kemungkinan tidak ingin berbicara di depan kelompok. Namun kenyataannya adalah, hal-hal kecil tersebut adalah yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin.

Jadi, Scott menyarankan agar introvert dapat mulai memaksakan diri untuk berpatisipasi dalam pembicaraan kecil sesekali, bahkan bila itu dianggap tidak berguna. Mengambil kelas public speaking atau jadi sukarelawan untuk memimpin proyek baru juga patut dipertimbangkan.

Yang perlu ditekankan di sini adalah, keinginan untuk mau bekerja lebih agar bisa menjadi lebih baik pada hal-hal yang tidak begitu dikuasai setiap minggu.

Masuk ke zona nyaman

Introvers sering menghabiskan banyak waktu di kepala mereka sendiri. Ini adalah waktu ketika mereka mengisi ulang tenaga, hingga datang dengan ide-ide besar. Mereka perlu masa-masa ini, terutama setelah berjuang untuk keluar dari zona nyaman.

Scott menyampaikan, “Jadi, luangkan waktu setiap hari. Bahkan jika itu 15 menit. Cari tempat yang tenang untuk duduk dan hanya bernapas. Biarkan pikiran mengalir melalui kepala Anda seperti awan. Dan ketika Anda sudah selesai, tuliskan ide-ide baru yang datang ke pikiran, yang mengarah ke ujung berikutnya.”

Menulis

Introvert cenderung lebih baik dalam menulis ketimbang berbicara. Ini sebabnya mengapa introvert harus menuliskan ide-ide yang datang sebelum membicarakannya.

Scott menyampaikan, “Buat dokumen 1 atau 2 halaman sederhana yang menyimpulkan poin-poin penting Anda, jawab pertanyaan yang diantisipasi dan sanggahan, dan coba menawarkan untuk menjawab pertanyaan tambahan.”

Anda mungkin akan melihat sebagian dari saran kepemimpinan tersebut adalah saran yang populer. Tapi, perhatikan juga bahwa sebagian besar dari saran itu datang secara alami dalam diri introvert. Jadi, manfaatkan itu. Akui, terima, dan perbaiki kelemahan yang dimiliki.

Sumber Artikel: https://dailysocial.id/post/lima-saran-kepemimpinan-bagi-seorang-introvert

Iklan

Fully Story Mendaki Gunung Guntur, Garut – Jawa Barat

Fully Story Mendaki Gunung Guntur, Garut – Jawa Barat

Pendakian seorang pemula

Pendakian terlama, tersulit dan paling menguras tenaga adalah pendakian dari basecamp cikahuripan menuju pos 1. “Gilaak dalam hati berkata, ternyata berat juga perjuangan naik gunung.” Total ada 3 pos, sebelum bisa tiba di puncak.

Selepas shalat magrib dan makan malam bersama, kami semua melanjutkan perjalanan dari basecamp, ke pos-1 dan baru 2/4 perjalanan beberapa diantara kami sudah kelelahan mendaki sampai pos-2. Terutama bagi pemula seperti saya ini.

Ada yang nafasnya tersengal-sengal, ada yang kedinginan, ada yang pucet wajahnya terutama wanita, ada yang basah kuyup keringat dan air hujan. Tapi, hebatnya ada juga yang masih bisa ketawa dan guyonan disepanjang perjalanan naik yang kalo orang biasa akan bilang “boro-boro ketawa, mau ngomong aja harus berhenti dulu karena beratnya perjuangan membawa diri dan bekal disepanjang perjalanan yang membuat nafas radanya sesak.”

Ini adalah perjalanan pertama saya mendaki gunung. Ya, saya memang pemula, nol pengetahuan namun pernah lihat di youtube sebuah track pendakian yang mudah banget untuk sampai puncak.

Saya merasa tertantang ingin sampai ke puncak gunung dan merasakan bersyukur pada sang pemelihara alam ini menyaksikan keindahan ciptaannya. Jadi, saya yakin mampu apalagi sebagian besar kawan disini sudah beberapa kali mendaki dan mereka sudah berpengalaman. Saya optimis, bisa sampai puncak.

Namun ternya, perjalanan menuju ke puncak tidaklah mudah. Dalam hati berkata “beuh, yang di youtube itu kayaknya enak banget, ini gilak rasanya seperti disiksa euy.”

Untuk bisa sampai ke puncak, dibutuhkan kemauan, keberanian dan kekuatan. Sedangkan saya sudah kelelahan sampai pos 2 gunung Guntur. Rasanya saya mau sampai sini saja ah, namun hati kecil saya berkata puncak gunung berketinggian 2249 mdpl itu tinggal setengah jalan lagi, saya terus berusaha walau sebenarnya ingin mengurungkan niat mendaki sampai puncak. Gilaak, benar-benar tidak ringan !

Beban tas di punggung membuat pegal kedua kaki, jari-jari kaki sakit karena sepatu yang sempit.

Pundak terbebani tas besar dan berat menguras tenaga mendaki merayu untuk selalu berhenti.

Udara dingin menembus daging dan tulang menjadikan hidung rasanya dingin membuat ekstra tenaga untuk menarik bernafas, kadar oksigen semakin sedikit karena kondisi mendaki kami adalah malam hari yang banyak dipenuhi co2 disepanjang jalan ini.

Kepala rasanya pening, nyut-nyutan oleh sebab otot bagian pundak tertahan beban tas yang beratnya 10 kiloan menjadikan peredaran darah mungkin tak lancar.

Lereng terjal, miring, jalanan berpasir, dipenuhi batu dan gelapnya malam yang hanya dengan mengandalkan cahaya lampu senter kami satu rombonga mendaki membuat harus waspada memperhatikan anggota lainnya dibelakang.

Karena perjalanan sudah tak memungkinkan semua anggota, kami istirahat di pos 2 dan bangun tenda. Kiri kanan dipasanglah flysheet penghalau angin super dingin dan udara bersuhu 12 derajat celcius. Ada yang merebus air, bikin kopi, susu dan makan roti, mie.

Dari pos-2 pemandangan kota sudah terlihat indah sekali. Dari kejauhan pandangan seperti dihiasi kabut yang menjadikan lampu-lampu dikota seperti bintang yang berkedip-kedip. Kami semua tidur, dan bangun lagi jam 3-an pagi.

Ahirnya 8 orang melanjutkan pendakian, 4 orang menunggu di pos 2 karena fisik yang tak menyanggupi medan yang makin menantang. Batu dan tebing yang makin curam dihadang oleh udara yang makin dingin benar-benar membuat yang nggak kuat tak akan sanggup lagi naik ke puncak. Apalagi jika ada yang badannya kurang fit.

Saya memutuskan terus mendaki bersama 8 orang lainnya. “Wow, jalanan menuju pos 3 lebih berat dari pada perjalanan dari pos 1 ke pos 2.” Medan terjal, pasir, batu dan pohonnya banyak. Setelah berusaha ahirnya sampai juga di pos 3, kami langsung menggelar alas dan sholat shubuh berjamaah. Ke puncak tinggal 9 menit lagi. Cahaya fajar mulai nampak. Kami makin semangat mendaki. Keindahan lukisan alam pagi mulai terlihat elok sekali, seolah mengobati lelahnya perjalanan menyiksa ini.

Done! Alhamdulillah. Tibalah saya di puncak gunung guntur. Masyaallah. Senengnya, saya adalah nomor #2 yang sampai di Puncak. Bersyukur sekali hati ini.

Rasanya, terbayar sudah semua rasa penasaran sakit dan lelah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Selama kurang lebih setengah jam di dataran paling atas kota garut ini, kami menikmati hidangan indah dmsang pemelihara alam semesta. Tak lupa, berfoto sebagai rasa bersyukur dan kenangan, dilanjutkan menyalakan api, menyeduh kopi di atas kabut dan awan sambil menikmati udara nan sejuk dan menyaksikan indahnya ciptaan Allah yang tiada bosannya kami pandangi.

Puncak Gn. Guntur – Jawa Barat. 27 Maret 2019. Kado yang indah saat sembilan tahun lalu aku melamarmu.

***

jalur gunung guntur garut

Kebersamaan adalah Kebutuhan

Satu lagi cerita menarik dari pendakian kemarin. Mungkin cerita ini tidak akan terjadi, namun nyatanya terjadi walau saya terlihat seperti merepotkan tapi ini tidak sia-sia. Tepatnya ada makna tentang kebersamaan yang bisa saya bawa pulang.

Setelah cukup aktivitas di atas puncak, kami semua turun. Di perjalanan kali ini wajah teman-teman terlihat beda, rasa senang, puas tak lupa bagian lutut kaki paling berdampak lelah karena upaya mengerem jalan turun berpasir dan miring alasannya.

Satu kali saya jatuh ringan karena menginjak tali sepatu yang kepanjangan. No problem, saya lanjut jalan.

Kami berempat turun bersama duluan, empat lainnya dibelakang mengabadikan momen dengan kamera dslr-nya.

Kira-kira 300 meter dari puncak, salah satu rekan saya perlu menyendiri mencari tempat sepi untuk menunaikan hajat. Disusul satu orang lainnya. Nah, saya nunggu bersama guide. Isenglah, merogoh saku tas nyari hp. Mendadak kaget, waduh kok nggak ada disini. Coba lagi buka bagian bawah tas juga tak ada. Coba lagi sata tumplekin tasnya sampai semua isi tas jatuh ke tanah tak menjumpai hp saya.

Haduh.. haduh.. haduh.. apa HP jatuh saat saya tergelincir karena menginjak tali sepatu diatas tadi ya? Karena belum terlalu jauh, saya putuskan naik lagi sampai pos-3. Kenapa hanya sampai pos-3, setidaknya saya sudah berihtiyar untuk mencari, jika memang masih menjadi rezeki saya.

Saya cari disekeliling saya jatuh namun nggak ada juga. Fikiran saya mulai bilang, apa jangan-jangan ketinggalan diatas puncak ? Whaaat? Saya harus naik lagi keatas..? Sendiriaaaan? Kabut udah makin tebel banget.. suasana gunung lebih gelap, tiupan angin membawa kabut mengingatkan saya akan “Ya’juj & Ma’juj” tenaga udah menipis, kakyaknya engga sanggup deh kalo sampai puncak 2 kali. Tapi aku akan coba dulu. Dari 13 orang, cuma saya yang naik dua kali meski hanya sampai pos-3.

Tapi mengenai data, akun, dan kontaknya lah yang terpenting itu yang terpikir. Oke, aku coba deh! Dapat setengah perjalanan menuju puncak, saya terhenti.. tenaga udah nggak kuat lagi.. “Enggak.. ini nggak bisa diteruskan, tenaga udah limit.. naik sendirian.. demi hp dan data.. fix, may Allah give me a lesson…”

Sambil menghentikan langkakh, saya membatin mungkinkah ponsel saya beli pakai uang tidak halal? Mungkin apa yang saya kerjakan sepanjang hari dengan ponsel itu tak Allah ridhoi? Sehingga HP harus hilang dari saya.

“Baik ya Allah, saya ikhlaskan jika memang engkau menghendaki seperti ini.. Saya ikhlaskan jika memang engkau akan menghentikan hak pakai atas HP titipanmu itu untuk saya mengamabil manfaat.” Seketika saya berbalik arah turun kembali. Oiya, guide itu sempat mengantar saya nyari HP tapi tak sampai keatas hanya sampai tempat ketika saya jatuh menginjak tali sepatu.

Dia bilang, “gimana udah ketemu ?”

“Belum, jawab saya, mungkin ketinggal di puncak. Udahlah, saya sudah ikhlaskan. Nggak kuat lagi mau naik.”

Dia nawarin: “Mau saya temani kepuncak nyari?”

Saya jawab: “Enggak, biar saja.. mungkin sudah bukan rezeki saya..”

lalu saya ajak turun seraya bilang makasih sudah diantar mencari.

Kedua teman saya yang buang hajat tadi, udah turun duluan. Tas yang saya tinggal setelah saya tumplek dan belum sempat saya bereskan, sudah dibawakan ke bawah menuju pos-2. Saya turun dengan pasrah, ngeduluin guide, sambil lari ngesot diatas pasir, seru juga walau lumayan pegal lutut kaki menahan turunan.

Di pos-2, kami semua ngumpul sebelum turun ke basecamp, bersih-bersih, beres-beres, bikin sarapan dan berfoto-foto. Saya kaget saat salah satu teman yang buang hajat tadi bilang, bahwa HP saya ada didalam tas.

Apa? Kaget saya!

“Coba ah saya cari..”

Tapi nggak menjumpai lagi. Terus saya nanya “Ada di tasnya siapa?”

Seseorang menjawab: “Ya di tasnya siapa lagi, masa di tas Saya.”

Karena belum ketemu, saya nanya lagi: “Pak, dimananya ya ini saya nggak nemu udah saya cek semua kantong.”

Lalu dia tunjukkan ada di saku tas kiri, bagian samping atas. Haduh..haduh..haduh.. Lega banget rasanya. Plong, seneng, bersyukur, lunglai, lemes. “Ini HP rupanya masih direzekikan ke saya sama Allah” – Hati saya membatin. Alhamdulillah yaa Allah, saya tak perlu nabung lagi untuk menyambung silaturachim dengan hampir 3.000-an kontak di Android saya dengan HP yang baru.

“Astagfirullah, maafkan saya ya Allah jika engkau memberi pelajaran ini karena saya punya salah pada-Mu yang tak saya ketahui.” Kemudian setelah jam 11-an berkumpul, kita semua turun ke basecamp.

Kebersamaan memang selalu nampak pada kegiatan mendaki gunung. Pelajaran yang sangat berharga adalah kita selalu butuh orang lain terlepas apapun kepribadian kita. Apakah introvert, ekstrovert, ambivert, kaya maupun cukup, memiliki kedudukan ataupun diberi pinjaman kedudukan, baik laki-laki atau perempuan. Semuanya butuh adanya orang lain dalam hidup mereka.

Itulah fungsi kebersamaan, karena manusia tak bisa hidup sendiri. Karakternya mungkin berbeda-beda, yang perlu kita lakukan adalah menghargai. Kelebihan satu dan lainnya juga unik, kita juga harus bisa memahami dan menempatkan sesuai tempatnya.

Kebersamaan, lagi-lagi menjadi indah justru karena keberagaman perbedaan itu. Coba bayangkan kalo semuanya sama. Didalam team kok sama, pasti tidak akan optimal berjalan. Kebersamaan diperlukan oleh siapapun, dimana saja dan selalu butuh adanya rasa saling menghargai, memahami, perhatian dan menasihati satu dengan lainnya.

Kebersamaan itu selalu nampak indah, walau penampilan tidak sama, prinsip, pandangan dan keahlian masing-masing itu bervariasi namun dalam sebuah team apapun itu, team bisnis, team rumah tangga selalu merasa butuh akan adanya rasa kebersamaan dan pertolongan orang lain.

Sekarang, kita renungkan kepada diri kita sendiri. Sudahkah saya baik membersamai istri/suami kita? Sudahkan saya baik membersamai kedua orang tua kita yang sudah sepuh? Sudahkan saya ini baik membersamai anak-anak yang butuh keteladanan dan didikan kita sebagai orang tua? Sudahkan saya baik memperlakukan karyawan dan anak buah yang membantu pekerjaan dan perusahaan kita? Sudahkan saya baik bekerja membersamai pimpinan kita, sudahkan maksimal dan ihlas dan tuntas? Ridhokah mereka? “Kebersamaan ini janganlah cepat berlalu..”

Aku butuh kamu, kamu butuh aku. Kita adalah team yang berjalan bersama.

Shalat Tahajud bikin wajah ganteng

Sudah pasti orang yang bertahajjud, bukan bertujuan untuk memiliki wajah yang menawan. Kalaupun itu terjadi adalah semata-mata karunia Allah yang diberikan oleh Allah di dunia ini kepada hamba-Nya yang ikhlas dan istiqamah bertahajjud, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah saw dan rombongan hijrah dari Mekah sampai di Madinah, mereka disambut dan dielu–elukan oleh masyarakat. Diantara yang hadir adalah Abdullah bin Salam yang waktu itu belum memeluk Islam. Ia berkata, “Ketika aku menatap wajahnya, tergambar bahwa ia bukanlah orang yang pernah berbohong”.

Kalimat yang pertama-tama diucapkan oleh beliau saat tiba di Madinah, ‘Wahai manusia, tebarkanlah ucapan salam, berikanlah makanan, bersilaturrahmilah dan salat malamlah ketika orang sedang tidur, niscaya kamu masuk surga dengan sejahtera“ (HR.Ibnu Majah, Al Hakim, dan Tirmizi).

Umar bin Khattab RA meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa salat malam, dan salat itu dilakukannya dengan baik, maka Allah memuliakannya dengan sembilan perkara lima di dunia dan empat di akhirat. Diantara lima perkara yang di dunia ini ialah

Tampak bekas ketaatannya pada wajahnya. Dalam hadis lain yang senada Rasul saw bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat tahajjud, maka wajahnya akan terlihat elok di siang hari.“

Ada orang bertanya kepada imam Al Hasan Al Barsi, ulama kharismatik Damaskus waktu itu, “Kenapa wajah ahli tahajjud tampak menawan?“ Beliau menjawab, “Tidak usah heran, karena ketika malam ia berduaan dengan Allah, lalu Allah memancarkan nur-Nya kepada si Abid itu.“

photo_2019-03-20_15-04-21

Dikisahkan, kalau orang menatap wajah Al Hasan Al Basri, maka selama seminggu membuat khusyuk mereka beribadah. Hal ini tidak heran, sebab Rasulullah saw menegaskan, menatap wajah ulama akhirat itu menuai kebaikan, seperti membangkitkan semangat untuk beribadah.

Allahuyarham KH. Abdullah Said, pendiri Ponpes Hidayatullah Balikpapan, yang digelari Dai Tahajjud, karena dalam setiap ceramahnya selalu mengangkat Tahajjud, menantang siapapun yang belum salat lail untuk salat lail. Bisa dibuktikan secara lahiriyah. “Coba salat lail tujuh malam berturut-turut,” kata beliau.

Sebelum salat lail, silakan berfoto dulu. Setelah salat lail berturut-turut itu, berfoto lagi. Lihat bedanya, pasti wajah akan kelihatan bersinar. Jangankan wajah kita, rumah ahli Tahajjud juga akan bersinar. Rasulullah saw dalam satu hadis menegaskan kurang lebih, “Rumah yang didalamnya didirikan salat tahajjud akan bercahaya dilihat oleh penghuni langit.“

Seorang santriwati di Ponpes Hidayatullah Balikpapan yang wajahnya dianggap jelek oleh ibunya, bisa menikah dengan seorang pemuda ganteng. Ibunya heran dan berdecak kagum dengan berkata, “Pintar betul orang pesantren membuat orang laku”. Dijawab oleh KH. Abdullah Said, “Itu bukan kepintaran orang pesantren, tapi karena pengaruh salat lail. Di wajah santriwati itu ada sebuah cahaya yang bersinar sehingga orang melihatnya cantik. Selain itu tentu karena doa-doanya ketika salat lail, makbul”.

Seorang wartawan ke Bangkok. Ia dikenal pengamal Tahajjud. Ketika berdiri di depan hotel untuk mencari taksi mencari Rumah Makan Muslim, tanpa diduga disapa oleh seorang sopir “Are you Moslem?“ Padahal sang Wartawan itu tidak memakai peci, sebagai salah satu identitas Muslim.

Ketika ditanya kepada sang sopir, dimana ia tahu bahwa dirinya Muslim? Sang sopir itu menjawab, pada wajahnya terpancar sinar seorang Ahli Ibadah. Masya Allah.

Diantara keistimewaan Tahajjud, menurut pengalaman seorang ahli Tahajjud. Pada wajahnya memancarkan cahaya keimanan, perkataannya dituruti oleh orang lain, analisa tulisannya tajam dan akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalnya.

Ibnu Al Hajj berkata, “Diantara manfaat Tahajjud, pertama menggugurkan dosa, kedua menyinari kuburan, ketiga mencerahkan wajah dan keempat membugarkan tubuh.“ Wallahualam.*

 

Sumber: https://integral.sch.id/artikel-401-Tahajud-Itu-Keren-dan-Bikin-Ganteng.html

Apa-apa yang kita miliki di dunia ini sejatinya adalah hak pakai, bukan hak milik !

Apa-apa yang kita miliki di dunia ini sejatinya adalah hak pakai, bukan hak milik !

Apa-apa yang kita miliki di dunia ini sebenarnya bukanlah hak milik, melainkan hak pakai. Harta benda yang setiap hari kita gunakan, sejatinya adalah kita mengambil manfaat dari benda itu.

Kita memang memilikinya, namun tak perlu membesar-besarkan hak kepemilikan itu. Cukuplah kepemilikan itu sebagai hak untuk bisa kita menggunakan dan menyerap manfaat.

Kita tidak semestinya memaknai barang, harta dan benda sebagai “hak milik.” Namun kita harusnya memaknai semua semua kekayaan dan fasilitas hidup yang telah dianugerahkan Allah ini yang kita nikmati sebagai “hak pakai,” hak menggunakan untuk sebuah kebermanfaatan.

Hikmahnya apa?

Jika kita memaknai harta sebagai hak pakai, maka kita akan bertanggung jawab merawatnya. Beda halnya kalo kita memaknai sebagai suatu kepemilikan, yasudah kita hanya merasa sudah memiliki saja. Tenang. Santai lalu mungkin akan dibiarkan begitu saja. Tak terurus, dan sampai ahirnya akan rusak dengan sendirinya.

Sekarang cobalah untuk kita ganti makna kepemilikan harta itu sebagai hak untuk menggunakan manfaat (hak pakai). Melakukan fungsi kebaikan, membantu sesama manusia, menolong orang. Lebih manfaat kan ? Dan lebih terawat pastinya karena ada tujuan untuk memakai terus. Tentu kalo sesuatu yang ingin digunakan, tak mau barang itu rusak. Tak rela barang itu berkarat.

Bagaimana dengan anak dan istri ?

Seperti halnya anak, istri ataupun suami itu sendiri sebenarnya kalo kita coba maknai sebagai bukan sesuatu kepemilikan. Karena kalo kepemilikan, jelas kita balikkan lagi ke asalnya bahwa Allahlah yang memiliki anak-anak kita, istri kita maupun suami kita. Allah kan sang khaliq, pencipta manusia. Jadi, Dialah sang pemilik. Dalam alquran, ada kalam Allah yang bermakna:

2. Al-Baqarah : 156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: “sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Jadi, apa iya kita seterusnya memaknai anak dan istri kita sebagai hak milik? Yaitu, kitalah yang memiliki? Kita merebut dari Allah. Kan nggak mungkin. Maka, agar lebih menjadikan diri kita lebih beriman. Bagaimana kalo anak, istri atau suami kita maknai sebagai hak pakai. Makna hak pakai juga jangan dikonotasikan dengan hal-hal negatif. Saya tentu tidak mengajak Anda menjurus ke situ. Hanya, kalimat ini saja yang mudah ditafsirkan negatif. Awas, hati-hati. Mohon, mencerna-dan segera mengabaikan fikiran negatif yang muncul di otak Anda.

Kita akan memaknai begini,..

Istri itu kan pakaian untuk suaminya. Ada ayatnya:

2. Al-Baqarah : 187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.

Begitu juga suami itu “libasullahunna.” Pakaian untuk istrinya. Pakaian, ya dipakai. Artinya difungsikan kegunaannya. Bukan hanya dimiliki saja kemudian disimpan, benar tidak? Ini bukan porno ya, awasi otak Anda sendiri. Dan inilah yang lebih penting dari makna hak pakai. Yaitu, supaya kita tetap bisa memberi dan menerima manfaat dengan baik ya kita harus merawat. Kita harus menjaga. Kita harus saling memberi. Itulah, kalo kita memaknai sebagai hak pakai.

Suami, memberikan perhatian, kasih sayang, penjagaan. Suami memperhatikan pakaiannya dengan merawat terus agar selalu tampak cantik dan menyenangkan dihadapan suaminya dengan perhiasan dan make up/kosmetik misalnya. Diperhatikan karena menyadari bahwa seorang suami pada dasarnya butuh seorang istri. Begitu juga sebaliknya, seorang istri senantiasa tidak pernah memperlihatkan wajah kesal, sedih atau marahnya pada suaminya. Ini menjaga. Istri butuh penafkahan, dan kewajiban penafkahan dalam sebuah rumah tangga itu diperankan oleh seorang suami.

Suami itu iya pemimpinnya. Tapi tetap saja, makna memakai juga bisa untuk suami karena berprinsip kepada istilah “Pakaian” tadi. Yang saya kalo memaknai sebagai fungsi saling membutuhkan, saling memberi dan menerima. Kenapa lebih dulu kata memberi dari pada menerima, karena itu kunci. Didalam bahtera rumah tangga sakinah, kunci utama itu bukan saling menuntut hak dan kewajiban. Melainkan, saling berlomba memberikan hak dan kewajiban. Siapa banyak pemberiannya, niscaya banyak balasannya. Baik didunia maupun di ahirat.

Lalu, bagaimana jika dimaknai sebagai hak milik?

Coba kalo kita maknai sebagai hak milik, mungkin kita hanya merasa bahwa kita telah memiliki istri atau suami. Sebatas merasa sudah memiliki saja, tak ada dorongan untuk merawat agar kepemilikan itu awet. Lagi pula, sang pemilik itu kan hanya Allah. Bersyukurlah pada nya, telah baik pada kita sebanyak ini (tak terhitung – maksudnya).

Kalo anak, bagaimana makna hak pakainya, kok disamakan juga sebagai hak pakai bukan hak milik?

Pertama anak itu juga kan titipan. Amanah dari Allah. Kalo Allah ngasih amanah kepada kita, lalu apa iya kita akan terima saja lalu dibiarkan tumbuh besar dan dewasa dengan sendirinya? Salah jika begitu. Seharusnya bahwa, kita merawat dan mendidik sebagai sebuah peluang untuk beramal, berinvestasi dan beribadah kepada Alla melalui hadirnya anak itu tadi. Kita rawat dia, kita besarkan dia, kita jaga dan berikan pendidikan.

Tenang saja, jangan kuatir soal rizki untuk anak itu sudah Allah urus tanpa mengurangi takaran dan jatah rizki kamu. Allah yang menjaga atas setiap sesuatu. Termasuk penjagaan untuk anak, tentu saja Allah telah menjaganya. Perhatikan tulisan berwarna merah dibawah ini:

6. Al-An’ām : 151

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah (Muhammad), \”Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.

Nah, jadi anak adalah hak pakai kita untuk meraup pahala. Itu mungkin lebih pas, ketimbang anak sebagai hak milik.

Segala yang kita miliki di dunia ini sejatinya bukanlah milik kita, namun milik Allah Al-Khaliq (Sang Maha Pencipta). Semua itu datang dari Allah, dan kelak akan kembali juga kepada Allah.

Semua yang Allah titipkan pada kita, ada hak hisab (perhitungan) di hadapan Allah. Apakah kita telah memanfaatkan dengan sebaiknya, atau kita mendzalimi titipan Allah itu? Hisab Allah adalah seadil-adilnya dan seteliti-telitinya perhitungan.

Jadi, mohon maaf jika dalam fikiran Anda masih belum bisa menerima istilah dan kata “hak pakai” cobalah untuk relax dan mengkonotasikan makna yang positif sebagai mengambil manfaat untuk kebaikan dan ibadah.

Ahirukalam, mohon maaf jika ada salah kata. Kurang sopan atau tidak berkenan.

Depok, 9 februari 2019 23:23 PM

Jadilah aku senantiasa orang yang selalu mendoakan orang lain diam-diam

Jadilah aku senantiasa orang yang selalu mendoakan orang lain diam-diam

Turut mendoakan orang lain itu, seperti kita berada dalam lintasan dunia tersendiri. Ya dunia kita, ya terlibat passif dalam dunia orang lain. Diantara itulah letaknya. Unik, asyik. Apalagi saat doa yang pernah dilantunkan terkabul, itu kebahagiaan tambahan buat kita yang turut mendoakan. Perasaan lega, padahal orang lain yang bahagia. Ingin tersenyum tapi hanya bisa dari kejauhan menyaksikan mereka telah mencapai seperti apa yang kita harapkan.

mendoakan orang lain diam diam

Kemungkinannya ada dua. Yaitu, dia mencapai impiannya karena memang kehendak Allah. Yang kedua, kita nggak bisa disalahkan kalo sedikit banyak menyumbang kontribusi walau hanya lewat doa. Ya kita kan mendoakan, dan kalo memang Allah yang menghendaki impian orang lain itu terwujud itu ada bagian dari doa-doa kita yang turut membangun harapan mereka.

Itu ngga bisa dipisahkan kenyataan dengan doa kita diam-diam. Ikut senang, sudah pasti lah. Tanpa perlu orang lain tahu. Cukup bersyukur pada Allah, bilang makasih yaa Allah aku pun ikut berdoa untuk dia, dan engkau kini telah kabulkan. Entah itu karena doa siapa, aku tak tahu karena hanya hak engkau lah membuat kuasa. Aku kecipratan bahagia, aku kedapatan perasaan lega. Terimakasih yaa Allah. Selamat untuk kalian, yaa. Kudoakan lagi dari sini, semoga.. “blaaa… blaaaa… bllaaaaa…”

Jadilah Aku, senantiasa turut mendoakan orang lain diam-diam.

Kamu perlu coba deh, doakan aku yaa diam-diam. Hehe, tapi yang ihlas. Dan, kalo kamu ingin aku foakan juga. Please, taruh harapan kamu di kolom komentar yaaakzz..

Depok, 9 February 2019
Lukmanul Hakim
Menulis sambil duduk bersandar, sambil senyum-senyum sendiri. 😂😂

Rasanya ingin melebur menjadi huruf dalam alquran karena kagum

Rasanya ingin melebur menjadi huruf dalam alquran karena kagum

Rasanya aku ingin menjadi huruf-huruf dalam alquran.

Seperti itulah, perasaan yang kurasakan atas kekagumanku terhadap ayat alquran. Aku kagum karena yang tertulis dalam alquran itu, hari ini terbukti. Aku takjub dengan pembuktian kalam Allah yang tertulis 1400 tahun yang lalu kini benar-benar nampak bukti itu di hadapan mata. Allah sungguh perlihatkan keajaiban-keajaiban itu, kepadaku. Bagaimana mungkin aku diamsm saja. Bagaimana bisa hati ini tidak tesayat rasa merinding ?

huruf hijaiyah

Hingga air mata yang turut sujud pada Allah pun “shobabna ma’a shobba.” (Tertuang). Aku merasa bertaburan seperti semburat air yang keatas, dan merasa hancur berkeping-keping menjadi huruf-huruf dalam alquran. Seperti itu rasanya. Seperti itu gambaran kekagumanku atas Alquran.

Semoga ini tidak berlebihan, kecuali Alquran itu sendiri yang memang lebih. Semoga, aku menjadi bagian dari alquran meskipun rindu ini seperti titik dengan bulan. Artinya sangat jauh terasa mungkin karena terhalang dosa-dosa kotor yang hitam.

Namun, aku takjub. Aku rindu kalam-NYA. Ingin menjadi bagian dari kalam Allah, setidaknya dengan minimal yakin. Berkesempatan mengimani alquran. Tolong, ya Allah jadikan qalbu ini beriman kepada Alquran. Jangan engkau ambil iman ini, tumbuhkanlah. Kuatkanlah akarnya dengan diizinkan olehmu bisa hafal juga mengamalkan.

Dan buah-buah yang jatuh, yaitu anak keturunanku juga takdirkanlah didalam hatinya tertanam alquran dan berbuah amalan, berakar sikap kiat yang berdasarkan alquran.

Depok, 9 februari 2019.

Lukmanul Hakim.
Duduk memangku Alquran.

Flatlay Photography & Tips agar foto memikat pelanggan !

Flatlay Photography & Tips agar foto memikat pelanggan !

By: Lukmanul Hakim
Tanggal: 7 february 2019. Lokasi: Jalan Mawar, akses UI Depok.

1. Prediksi trend foto di tahun 2019 itu seperti apa?
– motions graphic
– motions lighting

2. Bagaimana tips melakukan photografi untuk objek rumah?
– foto detail, yaitu mengambil foto pada objek rumah secara terperinci misal pada jendela, daun pintu, dll.
– memainkan angle foto,misal dengan tehnik pengambilan dari samping.
– karena properti adalah object besar dan berada di outdoor sehingga sangat terpengaruh oleh cuaca, cahaya, medan magnet,arah angin sebetulnya peralatannya memang ada khusus dan cukup mahal. Namun untuk mengatasi hal ini bisa dibantu dengan aplikasi misalnya VSCO atau SNAPSEED untuk android.
– foto drone, yaitu pengambilan fotonya yang menampilkan permukaan rata dengan tehnik flatlay fotography.
– opsi selanjutnya, dengan lensa lebar 18-20 agar object terlihat semuanya.

:.

flatlay photography
Hasil foto dengan tehnik flatlay photography

Flatlay photography

Yaitu tecnique pengambilan foto yang menampilkan permukaan yang rata. Flat lay dilakukan dengan cara mengambil foto dari atas. Untuk teknik flatlay ini lebih simple pakai kamera ponsel sebenarnya, selain ringan dibawa juga mudah digunakan. Tidak seperti kamera dslr yang harus naik-naik tangga dulu. Flatlay, makin simpel makin sederhana.

Cara mengambil foto flatlay

1. Keinginan dan kesabaran, jadi untuk mendapatkan hasil gambar yang memikat dan menarik itu perlu kesabaran yang tinggi. Karena harus disusun dulu, dirancang dan diatur.

2. Memahami basic photography, seperti iso -cahaya, aperture – bukaan kamera, kalo flatlay bukaan mesti gede 4-6.

3. Nyiapin konsep foto.

:.

flatlay
Seminar dengan tema tips memikat pelanggan dengan photo menarik

Tips foto flatlay

1. Kumpulin props, mau foto apa, yang ditonjolin apa dikumpulin dulu.

2. Cari sumber natural light, kalo properti misalnya cuaca itu ngaruh banget di hasil.

3. Hias objek, susun tata letak. Misal dengan tehnik negative space, yaitu ruang kosong lebih banyak.

*Praktik foto flatlay:* diupload di instagram dengan hashtag #acom #acomdepok

Pengisi materi:

@manjatgones
@komacafeid, @mokapos